Sebab nilai setitik rusak susu sebelangga
Mungkin albert enstein aja ku tanyak tak tau dia mau jawab apa. Walaupun masalah nya selesai, tapi nama baik ku tak sebagus kata selesai. Aku ini anak baik baik, kalo kata emak ku, aku ini juga punya otak yang lumayan lah. Di mata guru guru ku juga aku ini termasuk apa ya istilahnya, bisa lah, tak mau sombong aku soalnya.
Tapi, karena aku ini lagi kena masalah.
Pas ujian, hape ku tertangkap sama pengawas, padahal hape ku ini ku gunakan untuk memberikan jawaban, bukan bertanya, matilah aku, bagaimana nanti kalo mamak bapak ku tau, kecewalah mereka.
Sebenarnya juga, kalo di pikir pikir aku yang rugi, aku yang memberikan jawaban, aku malah yang kena. Tapi memang, aku ini punya solidaritas tinggi, ndak mau juga aku kalo teman teman ku tidak lulus ujian. Tapi aku juga yang malah jadi korban. Ini seperti makan buah simalakama.
Akhirnya ku beranikan lah diri buat meminta hape ku sama pengawas, tapi pengawas bilang,
"mintalah sana sama panitia"
"siapa panitianya bu ?"
"itu, pak ******"
hehe, ku sensor bagian itu, tak mau aku kasih tau nama guru kesayangan ku.
Dalam hatiku, matilah aku, itu guru paling ku hormati, paling ku sayang lah istilahnya, soalnya baik beliau, tak pernah marah, sama aku, kalo sama yang lain sering dia.
Tapi ya mau bagaimana lagi, hape ku sama dia, mau ku minta sama siapa lagi kalau bukan dia.
Masuklah aku ke ruanganya, ku ngomonglah baik baik. Dia juga jawab baik baik, karena memang dia baik.
Kita ngomong begini, begini, kenapa kau bisa bawa hape, kenapa sampai kau bisa tertangkap. Ya ku jawablah semua, sambil bergetar pastinya, takut aku, mungkin bagi kalian, alah, masalah sepele aja itu, tapi buat ku, ini tak bisa di anggap sepele. Sudah ku jelaskan tadi, di mata guru guru, namaku ini baik, aku itu termasuk anak ya, kau taulah itu, tadi sudah ku beri tau. Tak mau ku ulang, aku tak sombong orangnya.
Langsung lah aku jawab pertanyaan nya guru ku itu, dengan nada bergetar,
"Begini pak, aku ini tak pernah bawa hape sebelumnya, baru ini saja aku bawa, itu pun ku ganakan bukan untuk menanyakan jawaban, tapi untuk memberi jawaban"
"Iya, bapak tau kau ini anak yang bisa, anak yang baik, tapi kan, bapak sudah sering bilang, janganlah kau berbuat tak jujur, bapak paling tidak suka anak yang seperti itu"
terdiam aku, tak tau lagi aku mau jawab apa, di hatiku berkata ya bodoh juga aku, mau saja aku bawa hape.
"Begini saja nak, kau tinggal berjanji tak mengulangi perbuatan mu itu, besok jangan sampai lagi kau bawa hape mu itu, kalo sampai ku dapat, ku buang ke paret itu nanti"
"Iya pak, janji saya tidak akan bawa hape lagi, ini untuk yang pertama dan terakhir kali"
Nah begitulah, memang selesai masalah ku, tapi nama baik ku di depan guru ku itu yang tak selesai, jadi, ya seperti pepatah yang ku katakan di awal
"Sebab nilai setitik rusak susu sebelangga"
yang berarti
Kebaikan yang telah banyak kau lakukan, semuanya rusak karena satu keburukan yang kau perbuat.
Jadi kawan, dari cerita hidup ku tadi, ambil lah pelajaran, memang solidaritas antar teman itu wajib, tapi di kala ujian, tak ada yang namanya memberitau atau bertanya, karena itu ujian, bukan pada saat belajar, maunya, kau bersoliderlah dengan teman mu, pada saat belajar, jangan pada saat ujian. Karena jika itu kau lakukan, menyesal nanti kau, seperti aku ini, rusak nama baikku.
Berusahalaah sendiri, bekerja keraslah, karena semua kerja keras dan usaha mu nanti, kau sendiri yang akan menuai hasilnya.